Menengok (ke belakang) Pluralisme^


Pertanyaan awal yang muncul adalah, “Kenapa NU melarang/mengharamkan pluralisme?”, MUI telah membuat label haram padanya.

Suhudi Suparman: Pluralisme meyakini bahwa agama yang dipeluk oleh masing2 pemeluknya adalah benar.”.. “Saya yakin dengan sebenarnya bahwa agama yang saya peluk itu benar. Namun di sisi lain, ada juga orang lain yang mempunyai keyakinan seperti saya terhadap agamanya masing-masing.”

Dari sini, pengertian pluralisme dipercaya sebagai hakikat dari nilai al-Quran yang amaliyah/aksiologis. Maka, pluralisme selayaknya didukung aksi/tindakan rill dalam kehidupan, hal inilah yang dinamakan multikulturalisme.

 

Sejarah

Memang berdasarkan sejarah, pluralisme-khususnya pluralisme agama-muncul pertama kali di Barat. Di sana ada fakta nyata tentang kristen yang secara general terbagi menjadi dua, protestan dan katolik. Keduanya saling mengakui. Pun pada saat itu, “kelompok” nasrani monoteis juga tetap eksis, meski paham trinitas muncul dan merajai.

Hal yang terjadi kemudian, pasca itu, adalah kekalahan Uni Soviet atas America Serikat dalam perang. Mereka kalah. Lumpuh. Tak ada perang, maka tak ada senjata. Kemudian, banyak para pengusaha senjata mulai kebingungan*. “Ide cemerlang” muncul, mereka mendekati dan membujuk pemerintah AS untuk melakukan propaganda di tanah Timur. Mulailah muncul isu krisis minyak di Libya, Irak, dan Afganistan. Pun muncul isu nuklir di Irak dan Iran. Ditambah lagi “perang” Israel dan Palestina yang tak kunjung usai -katanya tak akan usai sampai akhir kiamat. Pada takut kiamat mungkin-.

Tak berhenti di negara-negara Arab, propaganda juga dilakukan di Indonesia. Side yang menjadi korban adalah agama. Isu keragaman dan kerukunan agama di Indonesia pada masa itu memang sedang hot. Bahkan, pada masa itu ketimpangan hak terhadap agama-agama yang ada sangat kentara. Terutama dalam hal praktek ibadah dan pembangunan tempat ibadah.

Yang ironis adalah, hal ini justru “diteruskan” oleh pemerintah. Terbukti dengan “aturan” dari Kemenag pada tahun 2006 yang intinya, “untuk mendirikan tempat ibadah, seseorang setidaknya harus mendapatkan persetujuan dari 60 orang jemaah/umat (seagamanya) dan 90 orang warga sekitar.” Dampaknya tentu pada kelompok agama minoritas. Bahkan, di salah satu desa di Jepara, ada dua orang kristiani yang tidak bisa (sekedar) membuat tempat ibadah. Mereka minoritas. Sedangkan di salah satu desa di Demak, ada beberapa orang muslim kaya yang memiliki mushola pribadi (kepemilikan sendiri).

Hal ini menimbulkan keuntungan di satu sisi (kaum muslim) dan kerugian di sisi lain (kaum non-muslim). Kemudian, Gus Dur dengan kacamata bijaknya, memandang perlu adanya toleransi (inti dari ajaran pluralisme) antar agama.

 

Pluralisme

Dari sini, Gus Dur mulai menganalisa tentang perlunya pemahaman dan pengakuan akan adanya kemajemukan (pluralism-red). Ya, ketika beliau menjadi Presiden terbukti dengan munculnya agama baru yang diakui oleh Negara, yaitu Konghucu. Pada saat itu merupakan agama minoritas etnis Tionghoa.

Lalu “ajaran”pluralism pun menjadi salah satu hal penting dalam menyatukan umat (muslim secara internal) dengan warga Negara (Indonesia pada umumnya).Dus, sejak saat itu pengakuan terhadap hari raya bagi masing-masing agama juga menjadi sasaran, natal, nyepi, waisak, dsb.

Dengan tanpa mengesampingkan yang lain, penulis ‘mengunggulkan’ pluralisme sebagai salah satu cara untuk melihat keberagaman sebagai sesuatu yang niscaya dan harus diakui dan dihargai. Dalam pemahaman pluralisme secara lebih dalam, kita bisa membacanya dalam buku-buku Gus Dur. Baca saja!

 

 

^ Hanya sebuah refleksi tentang pemikiran Gus Dur (dirangkum dari perkataan, saran ust. Fakhruddin Aziz dalam diskusi tentang “Gus Dur dan Pluralisme”)

* Logikanya, jika perang berakhir, maka tak ada penggunaan senjata. “korban”nya adalah para pengusaha senjata.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s