Jihad: “Melunakkan” Kekerasan


Kita semua nampaknya sudah sedikit jengah dengan kajian ini. Jihad. Kata yang sering diidentikkan dengan kaum formalis/tradisional, puritan, dsb. Jihad pun kerap dikaitkan dengan kekerasan, bom, teroris –yang akhirnya mereka dinamai dengan label “radikal”. Namun, penulis pun masih ingin mengingatkan tentang tragedi 11 September 2001 lalu. Katanya, banyak disebutkan di berbagai buku, peristiwa itulah yang menjadi pemicu berkobarnya “jiwa-jiwa” pejuang mujahidin. Kesan keras pun secara otomatis melekat pada mereka, oknum, lantas berujung pada mereka, agama (Islam-pen).

Lumayan ironis. Peradaban Islam yang pada masa itu sudah mulai mundur, karena perkembangan keilmuannya yang mulai membeku. Ditambah lagi adanya isu kekerasan ini. Tentu, pukulan keras telah diterima Islam (bukan hanya muslim) pada saat itu. Truth claim atas Islam pun seakan sirna tanpa nyawa di mata dunia, Barat khususnya. Faktor eksternal (kemunduran peradaban Islam) pun beriringan dengan faktor internal yang muncul kemudian. Paham tentang jihad yang sejak dulu terkesan grambyang menjadi salah satu penyebabnya.

Dus, dari sini perlu adanya rekonstruksi pemahaman jihad.

 

Memahami Jihad

Jihad berasal dari kata jahadayujahidu-mujahadatan/jihadan. Arti lazimnya bersungguh-sunguh. Seang dalam sejarah Islam dikenal ada istilah jihad fi sabilillah, bersungguh-sungguh di jalan Allah. Dulu, Rasulullah menyontohkan dengan perang, melawan kaum kafir. Al-Quran pun meyebutkannya dalam surat al-Furqan: 52, (Fala tuthi’I al-kafirina wa jaqidhum bihi jihadan kabira.). Pada konteksnya, ayat tersebut turun di saat islamisasi sedang gencar-gencarnya digaungkan. Dapat diketahui, bagaimana dulu umat yang contra kepada Islam begitu kuat menolak ajaran Muhammad dengan sepenuh jiwa raga. Mulai dari perang-perang, boikot (pra hijrah), dan upaya intervensi dan pengancaman (khususnya kepada budak dan masyarakat menengah ke bawah).

Kemudian, hal yang menurut penulis juga penting adalah fakta keadaan lingkungan Arab pada masa itu. Lingkungan dan watak keras, itulah mereka. Bahkan hingga sekarang, jazirah Arab masih dikenal dengan hukum qishash dan pancungnya. Hal ini tentu akan menimbulkan pemahaman bahwa perang bukanlah sesuatu yang wah di sana. Yah, bagi penulis, itu “Arab” (mereka) bukan “Islam” (kita). Itu budaya mereka bukan ajaran kita.

Berangkat dari sini, berbagai macam teori muncul. Mulai dari para tokoh Hermeneutik Fazlur Rahman, Nasr Hamd, dsb yang mementingkan pemahaman tentang konteks dan kontekstualisasi daripada teks[1]. Selain itu ulama-ulama dari Negara-negara Islam, misalnya Indonesia juga mulai melakukan reinterpretasi terhadap ayat-ayat jihad.

Kasjim Salenda, dalam bukunya “Jihad dan Terorisme dalam Perspektif Islam” mengemukakan bahwa, sebenarnya jihad itu terbagi menjadi dua, internal dan eksternal. Yang eksternal seperti praktek perang (mungkin) yang kita pahami selama ini. Sedangkan internal lebih condong sebagai penataan jati diri, bagaimana kita memahami diri sendiri, Intinya tentang “diri sendiri”. “Ubah Diri sendiri, maka kau akan mengubah dunia ini”, begitu penulis pernah mendengar dari salah seorang guru. (Kasjim Salenda: 2009)

Hal lain yang juga sering penulis diskusikan adalah, bentuk jihad modern haruslah mencakup berbagai dimensi kehidupan di masyarakat. Mulai dari ekonomi, kesehatan, politik, sosial, dan budaya. Semuanya. Yah, sebenarnya, hemat penulis, jika jihad benar-benar dimaknai sebagai kesungguhan, maka taka ada lagi keraguan untuk berjihad, Jihad di jalan Allah. Bersungguh-sungguh demi menegakkan agama Allah. (penjelasan lebih lanjut pada sub-bab selanjutnya)

 

Memahami agama

Agama memandang jihad. Iya, hal ini yang hendak penulis ulas secara singkat. Ayat Quran yang menyebutkan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam (semua) menjadi pengantar penulis. “Wa ma arsalnaka illa rahmatan li al-alamin”. Alam berarti bukan hanya sekelompok/ segolongan ras, dsb. Ia mencakup semua yang ada di dunia, manusia, binatang, tumbuhan, dan lingkungan alam. Pun, dari sini, maka akan sangat kontradiktif ketika dikatakan kekerasan dan penganiayaan/ riilnya perang merupakan ajaran dari Islam.

Melangit. Mencoba memahami Tuhan yang Rahman dan Rahim. Dia-lah Yang Maha. Kedua sifat itu mempertegas bahwa agama-Nya memang benar-benar penuh kasih. Islam pada hakikatnya ingin mengangkat apa kasih sayang dan moral. Mengingat bukti sejarah yang mengatakan bahwa sejak Islam dating, banyak tradisi-tradisi sebelumya, seperti menguburkan bayi perempuan dalam keadaan hidup-hidup, saling membunuh, mengunggulkan ras masing-masing, premordialisme, dsb ingin dihilangkan. Namun dalam prakteknya, tentu hanya bisa sedikit demi sedikit.

Praktek nabi kala memimpin madinah juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang ramah. Meskipun pada saat itu, Islam telah berkuasa, namun yang terjadi kemudian bukanlah kesewenang-wenangan. Saling menghargai dan mengasihi.

 

Berjihad

Di era ini, jihad tentu lebih aplikatif dan efektif. Tidak hanya melulu pada kata “jalan Allah” namun menggunakannya untuk membuktikan “rahmatan lil alamin”. Media multidimensi pun menjadi cara yang pasti berpengaruh. Jika menilik peradaban islam masa kini, maka banyak hal yang kiranya perlu dibenahi, ekonomi, politik, pendidikan (keilmuan), moral, dsb. Dengan praktek jihad seperti inilah diharapkan “kesempurnaan” agama (Islam) dan ajarannya bisa benar-benar terbukti. Yah, inilah yang akan membuktikan judul yang penulis usung “Jihad untuk perdamaian bukan perpecahan”. Pun dengan demikian, kita tak kan mempertanyakan kembali kenapa Tuhan membebaskan hamba-Nya untuk memilih agama. Dia menyediakan kebenaran dan membiarkan si hamba untuk memilih, bukan memaksanya. “La ikroha fi al-din”, dan firman-Nya juga, “Inna al-dina ‘indallahi al-islam”.

 

Kesimpulan

Beberapa hal yang menjadi titik poin penulis adalah:

– Jihad bukanlah kekerasan. Namun sebaliknya, upaya menuju perdamaian dan perbaikan.

– Islam merupakan agama penuh kasih dan bertugas menebarkan kasih tersebut.

 

 

Question:

  1. Ghazali – orang yang mati dalam Jihad adalah Shahid. Lalu, bagaimana dengan fenomena seorang ibu yang mati karena melahirkan anaknya, atau seseorang yang mati karena tenggelam atau kebarakran –yang konon mereka itu juga shahid, apakah ini juga tergolong dalam Jihad?
  2. Samsul – Bagaimana yang seharusnya kita lakukan sekarang?. Bagaimana berjihad era modern, khususnya di tanah nusantara ini?

 

Answer:

  1. Tentang itu termasuk shahid atau tidak, bisa saja. Bukankah hal-hal semacam itu sudah ada dalam beberapa hadits Rasul? Namun, dalam kaitannya apakah mereka itu termasuk orang yang jihad, belum bisa 100% benar. Karena, Jihad dalam arena ini lebih bersifat aktif. Yah, kalau menyangkut orang yang meninggal karena kebakaran atau tenggelam, saya kira lebih ke tujuan Rasul untuk memuliakan dan menegaskan bahwa orang yang mati (karena bencana: tidak sengaja) akan dimuliakan oleh Allah.
  2. Ya, berbicara tentang berjihad di nusantara, maka harus berangkat dari fenomena di nusantara. Jika negeri ini sedang mengalami kemunduran multidimensi, maka menyelamatkannya termasuk jihad. Seperti apa yang Hasyim Asyari katakan, bahwa zaman sekarang, jihad itu multidimensi, orang yang terjun di dunia politik atau ekonomi pun bisa. Karena untuk menegakkan agama Islam tidak melulu dengan jalan agama itu sendiri.

Dalam ranah yang lebih aplikatif, maka praktik jihad di Indonesia bisa dengan mengaplikasikan hukum zakat kontemporer untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan metode zakat modal, yaitu memberikan modal usaha dan skill (melalui) pelatihan pada orang-orang desa yang miskin, agar ke depannya bisa berwirausaha.

 

[Hasil diskusi, pemakalah: Ahmad Muzaqqi]


[1] Ayatnya “jahada” atau “jahidu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s