Tan Malaka: Hanya Soviet!


Pemikiran Politik Tan Malaka
oleh:  Muhammad Fadhlullah*

Menjelajahi Parlemen dan Soviet?

Parlemen atau soviet merupakan pertanyaan krusial yang sempat menjadi perdebatan luas di kalangan gerakan pra kemerdekaan. Konteks yang melahirkan karya ini adalah konsekuansi politik etis Belanda yang memaksa Belanda membagun Dewan Rakyat (Volksraad) bagi pribumi. Dalam tulisan ini, Tan Malaka menolak konsep Volksraad dengan tegas dan memilih bentuk Soviet sebagai alternatif. Konsep ini tidak diambil dari ketiadaan tidak juga lahir dari ide semata namun juga mendasarkan pada konteks kontradiksi material yang nyata pada masa itu. bagi Tan Malaka, dibentuknya parlemen oleh pemerintah Belanda di daerah jajahannya bukanlah semata-mata politik balas budi namun juga adalah distraksi yang mengelabui kepentingan sejati rakyat Hindia Belanda yaitu kemerdekaan dan membentuk negara mandiri. Menurutnya, mana mungkin muncul lembaga perwakilan sementara kekuasaan berada di tangan penjajah, jika itu terjadi maka lembaga perwakilan tersebut hanyalah bualan belaka karena tak ada kedaulatan yang ia kelola.

Dalam buku ini, Tan menjelaskan mengenai gerak sejarah yang melahirkan konsep parlemen juga gerak sejarah yang melahirkan soviet. Secara general juga, Tan menjelaskan mengenai sejarah parlemen di Belanda. Disini Tan mengulas konsep historis yang tidak kongruen dengan konteks Indonesia dan mengungkap bahwa apa yang terjadi di belanda sama sekali berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Lebih jauh lagi Tan juga melakukan klasifikasi watak kelas partai dan organisasi rakyat di Indonesia pra kemerdekaan seperti Budi Utomo, Sarekat Islam dan Indische Partij untuk menegaskan konsep perwakilan kelas dan membantak konsep perwakilan partai.

Baik Soviet maupun Parlemen, keduanya merupakan bentuk perwakilan politik untuk mengelola kekuasaan dengan tujuan menghindari atau meminimalisir konflik antar masyarakat, menciptakan perdamaian dan kesejahteraan bersama. Dalam buku Parlemen atau Soviet, Tan Malaka dengan jeli menjelaskan konteks historis yang melahirkan kedua konsep tersebut kemudian ia intepretasikan kembali sesuai dengan kepentingan sejati rakyat Indonesia.

Bagi Tan Malaka, Negara yang menganut prinsip Trias Politika (Montesqieu) yang ada dalam sisterm parlementer adalah kekonyolan dan hanya menguntungkan sebagian kecil rakyat. Terutama dalam konteks negara yang baru merdeka (jika tercapai kemerdekaan), pemisahan antara lembaga kenegaraan akan menghasilkan kesenjangan dalam memahami realitas sehingga akan memunculkan kontradiksi antara aturan dan realitas. Negara dalam pandangan Tan Malaka adalah sebuah negara yang berjalan secara efektif dan efisien. Bentuk ini hanya dapat diwujudkan dalam bentuk Soviet yang tidak memisahkan kekuasaan melainkan melakukan fusi kekuasaan.

Tan Malaka memulai pembahasan menganai Parlemen dengan mempermasalahakan semantic peristilahan parlemen yang di hindia belanda ataupun Indonesia sekarang sebagai dewan. Tan Malaka membedakan istilah dewan dengan parlemen melalui perbedaan sejarah terbentuknya. Sebagai seorang Marxis, Tan Malaka menggunakan Materialisme historis untuk menjelaskan sebuah fenomena termasuk pada kemunculan peristilahan.

Dewan adalah sebutan bagai para pembantu sultan memerintah pada masa kerajaan. Dewan sebagaimana Sultan tidak dipilih langsung oleh rakyat pleh karena itu tidak ada kewajiban bagi dewan untuk menyampaikan aspirasi rakyat begitupun juga rakyat tidak memiliki kuasa apapun untuk memecat dewan sedangkan parlemen memiliki akar historis yang berbeda. Parlemen dipilih oleh rakyat banyak dan terdapat lembaga lain dalam pemerintahan untuk memeriksanya. Melalui semantic tersebut jelas istilah dewan tidak sejajar dengan istilah parlemen.

Parlemen muncul dari perlawanan terus menerus kaum borjuasi terhadap kekuasaan absolute Raja di Eropa. Perlawanan kaum borjuasi eropa muncul ketika kaum borjuasi mulai menemukan alat produksi yang lebih efisien dan perluasan koloni sehingga mereka mampu mengakumulasi modal. Sejarah kemunculan parlemen di inggris yang dimotori oleh kaum borjuasi merupakan perjuangan kelas kaum borjuasi yang tidak selesai dalam satu malam.

Kaum borjuasi inggris menuntut untuk menurunkan tarif pajak negara dan dapat ikut serta dalam perumusan kebijakan di negara tersebut. Kaum borjuasi tidak hanya melakukan usulan tapi juga melakukan pemboikotan dan aksi-aksi pemogokan. Setelah kompromi antara pemerintah dan kaum borjuasi selesai perwakilan menghasilkan permasalahan baru yaitu bagaimana memilih wakil yang duduk di parlemen. Untuk itu setiap orang yang ingin duduk di parlemen membangun kepanitiaan pemilihan yang nantinya menjadi asal muasal munculnya partai politik.

Parlemen, sejak masa awal terbentuknya sudah dipilih oleh rakyat namun hak memilih itu bergantung pada pajak/belasting, oleh karena itu tidak semua orang berhak memilih. Kelas yang mampu membayar pajaklah yang memiliki perwakilan di parlemen dan dapat terpilih menjadi anggota parlemen. Jika kita perhatikan Amerika yang mengklaim sebagai praktisi montesqieu dan pelopor demokrasi meskipun sudah merdekasejak 4 juli 1776 baru meloloskan hak pilih perempuan pada 1919 karena gencarnya perjuangan politik perempuan di Amerika. Parlemen dan demokrasinya sejak awal tidak dibangun untuk semua namun masih kental dengan diskriminasi ras, kelas dan gender untuk menentukan siapa saja orang yang berhak memilih dan dipilih.

Parlemen diklaim muncul sebagai perwakilan rakyat dalam urusan politik dan merupakan wujud dari kekuasaan rakyat dalam suatu negara. Untuk membatasi kekuasaan absolute tersebut, parlemen memiliki empat hak yaitu hak inisiatif (mengajukan pertimbangan), hak interpelasi (mempertanyakan kebijakan pemerintah), hak angket (bertanya kepada pemerintah) dan hak amandemen untuk merubah peraturan. Namun, sesuai dengan blok historisnya, parlemen yang muncul dari kaum borjuasi (kelas pemodal) hanya berisi kaum borjuasi yang jika dibandingkan dengan jumlah kaum proletariat (kelas pekerja) sangat jauh jumlahnya. Parlemen sebagai perwakilan kaum borjuasi tentu akan terlebih dahulu membela kepentingan kaumnya dan melanggengkan kuasa kaum modal juga.

Kekuasaan parlemen inipun tidak sama di semua praktek negara. Jika di Inggris parlemen lebih kuat ketimbang eksekutif lain halnya di Jerman parlemen tidak berdaya di depan eksekutif. Parlemen Inggris mampu untuk mengeluarkan mosi tidak percaya terhadap eksekutif untuk memberhentikan menteri ataupun perdana menteri karena mereka dipilih oleh parlemen. Berbeda hal dengan Jerman yang presidensil, kanselir tidak dipilih oleh parlemen begitupun juga pera menteri sehingga mosi tidak percaya tidak lagi berguna. Kekuatan parlemen tidak hanya bergantung pada system politik negara namun juga dukungan public dan dukungan militer.

Berbeda dengan system parlemen yang mengekalkan kaum modal, system soviet berlaku kebalukannya untuk menghilangkan kaum modal. Ide awal soviet sebelum resolusi Komintern dibawah Stalin yang memutuskan dibangunnya sosialisme satu negara yang kemudian menguatkan kelompok teknokrat dan birokrasi adalah ide tentang fusi kekuasaan dari bawah ke atas. Pemerintah dalam system soviet tidak dipisah pisahkan (separasi) melainkan fusi, menghilangkan sifat birokratis dan menyelenggarakannya bersama sesuai dengan kebutuhan kelas buruh dan tani.

Ide bentuk soviet berakar pada corak produksi dan bertujuan untuk melakukan pemeratan kesejahteraan dengan jalur distribusi yang terpimpin atau dengan kata lain dalam ekonomi adalah perencanaan ekonomi terpusat sehingga perwakilan di dalam soviet selain perwakila distrik juga terdapat perwakilan kelas. Namun pusat disini tidak diartikan sebagai segelintir orang eksekutif tetapi kongres rakyat.proses pemilihan dalam system soviet berlangsung dari desa-desa kemudian berjenjang ke kota-kota dan akhirnya kongres nasional. Russia pada masa soviet sebelum Stalin memiliki 2500 anggota perwakilan dengan kongres dua kali setahun dan tidak melepaskan kerja-kerja indivisual sehari-hari para anggota kongres. Berbeda dengan system parlemen borjuisseorang anggota parlemen seringkali terisolasi dari rakyat karena jabatannya, anggota perwakilan soviet tetap tinggal di rumahnya masing-masing dan bekerja sesuai dengan pekerjaannya seperti menjadi buruh pabrik, administratur ataupun petani.

Dalam system soviet sederhananya merupakan sebuah organisasi tunggal yang membagi kewenangan sebagai pelaksana, pengawas dan badan peradilan sementara perturan dibuat bersama. Soviet mengenal pembagian kekuasaan namun tidak dalam lembaga yang terpisah. Untuk meghindari tirani kekuasaan, soviet melakukan pemilihan perwakilan dalam selang waktu yang tidak terlalu lama dan melakukan system kritik dan otokritik dalam kongres organisasi.

Tan Malaka menganalogikan system soviet ini pada system Nagari di Minangkabau sebelum injeksi kapitalisme. Ia juga yakin bahwa system fusi seperti soviet akan menjadikan negara yang mampu bergerak secara efektif dan efisien sekaligus membangun system yang adil tanpa diskriminasi dan eksploitasi. Ia juga berpandangan bahwa suatu parlemen kaum borjuis adalah alat digunakan untuk mengekalkan perburuhan dan kapitalisme sementara soviet adalah alat sementara untuk menghilangkan kapitalisme dan mendatangkan sosialisme.

Untuk memahami cara berpikir Tan Malaka, perlu bagi kita untuk mengetahui bahwa sebagai seorang Marxis yang konsisten secara ideologis ia menempatkan pandangan terhadap realitas dengan pisau analisa materialism dialektika historis yang ia revisi menjadi materialism dialektika dan logika karena menurutnya historisisme sudah tercantum dalam konsep materialism dialektika.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

* Mahasiswa FUPK jurusan Akidah Akhlak angkatan 2010 (PK’06) dan juga Ketua IKSAB Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s