Khidhir: Sang Empunya Ladunni


Menguak Rahasia Ilmu Ladunni (Telaah Khidir dalam Perspektif al-Quran)[1]

oleh: Naela Rohmah dan Ahmad Muzaqqi[2]

Membahas Khidhir, maka tak akan lepas dari yang namanya “misteri”. Disamping keberadaannya yang sampai sekarang masih dipertanyakan, ilmu-kono disebut laduni-nya pun sampai sekarang masih dikaji kebenarannya. Jika menengok apa yang telah termaktub dalam al-Quran, maka kisahnya benar-benar nyata. Namun demikian, ada yang berpendapat itu hanya majazi (kiasan). Dus, Lebih intens lagi, penulis akan mengulas hal tersebut dalam tulisan singkat ini. “Menggali (kisah) Khidir, Mengeruk (permata) Laduni”.

Riwayat Khidir

Tidak ada satu kesepakatan yang menyebutkan darimana dan bagaimana riwayat kehidupan Khidir. Pendapat Ibnu Abbas mengatakan bahwa nama asli Khidir adalah Balya bin Malkan bin Faligh bin Abir bin Salikh bin Arfakhsad bin Sam bin Nuh. Sedangkan menurut Ibn Ishak, nasabnya Khidir bin al-Ish binIshak bin Ibrahim al-Khalil. [3]

Mengutip pendapat Wahab bin Munabib dalam Badi’u zuhr seperti yang dikutip dalam buku “Nabi Khidir”, nama asli Khidir adalah Bayla. Seadangkan julukannya adalah abu Abbas. Ia dinamakan Khidir karena ia mengenakan pakaian dari bulu onta (warnanya putih) yang kemudian berwarna hijau.[4]

Selanjutnya mengenai keberadaan tempat Khidir. Banyak yang beranggapan bahwa Khidir bertempat di genangan-genangan air di muka bumi. Kenapa ya? Mungkin dhohir teks yang mengatakan tentang “ikan” dan “laut” mempengaruhi sebagian besar dari kita. Seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya, “Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Pun ada yat yang mengindikasikanbahwa keberadaan Khidir adalah di tempat bertemunya dua lautan (al-Kahfi/18:60).[5]

Terlepas dari itu semua, Musa menemukan Khidir dengan keajaiban yang terjadi (sebelunya). Yaitu ikan yang dibawanya berontak, keluar dari sangkar, dan tiba-tiba mengalirlah air yang mengantarkannya hingga ke laut. Hal ini mengisyaratkan bahwa Khidir bukanlah orang biasa. Ia memiliki dimensi berpikir (ilmu) yang berdeba dengan Musa. Jika Musa puny area rasionalitas (bahkan ia pernah ingin bertemu/melihat Allah[6])

Kisahnya bersama Musa

Tampaknya sudah terlalu sering kita mendengar tentang kisah Khidir dan Musa. Pada dasarnya, “kemunculan” Khidir di zaman Musa adalah untuk menyadarkan Musa untuk tidak boleh sombong. Di atas langit masih ada langit. Begitulah firman-Nya, “Lalu mereka dapati seorang dari hamba-hamba Kami yang telah kami kurniakan kepadanya rahmat dari Kami dan Kami telah mengajarnya sejenis ilmu; dari sisi Kami”.

Secara singkat, penulis tuliskan bahwa setelah diberitahu Allah, Musa pun mencari dan ingin belajar ilmu kepada Khidir. Dus, setelah bertemu, ia berkata ingin belajar, namun Khidir meragukan kapabilitas Musa (al-Kahfi 66-67). Setelah berusaha meyakinkan Khidir, Musa pun akhirnya berhasil diterima sebagai murid (69). Setelah melakukan perjalanan, ternyata benar apa yang dikhawatirkan Khidir, Musa terlalu banyak bertanya dan “berontak” kepada sang guru. Pun mashur bagi kita, ada tiga kejadian di situ.

Peristiwa pertama, Nabi Khidir as menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama (71). Peristiwa kedua , setelah sampai di daratan, Nabi Khidir as membunuh seorang anak yang sedang bermain (74). Peristiwa ketiga, mereka tiba di suatu wilayah yang tidak bersahabat sehingga membuat Musa kesal, namun Khidir malah menyuruh Musa untuk memperbaiki tembok rumah salah satu penduduk (77).

Pada setiap kejadian, Musa selalu bertanya tentang penjelasannya. Pada dua peristiea pertama, Khidir enggan menjelaskan, hanya mengingatkan tentang janji Musa yang ingin taat , tak mempertanyakan sesuatu apapun. Namun, akhirnya Khidir menjelaskan[7] semua peristiwa. Bersama itu pula ia menegaskan bahwa Musa tak sanggup mengikutinya. (78-82)[8]

Ya, pada akhirnya pun Musa sadar tentang ilmu hikmah yang dimiliki Khidir. Ia bahwa sadar segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Begitulah akal tak berdaya ketika bertemu dengan ilmu Tuhan.

Pesan terakhir Khidir bagi musa, “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan, wahai Ibnu `Imran.” Ini mengindikasikan bahwa dalam pencarian segala sesuatu harus disertai keyakinan dan kemantaban hati.

Analisis Ayat

Penulis mulai tergugah untuk tidak hanya membaca atau menerjemahkan ayat-ayat tentang Khidir tersebut. Di situ terlihat jelas bahwa ilmu Khidir dan Musa tidaklah sama. Ada yang berkata bahwa ilmu Khidir adalah hakikat, sedang Musa adalah (sekedar) syariat. Lebih jauh lagi, penamaan ilmu Khidir berubah menjadi ladunni. Ini tentu terpengaruh bahasa al-Quran yang menggunakan “ …min ladunna ilma.” (65).

Ilmu yang dimiliki Khidir memanglah unik. Salah satu telaah tentangnya mengimplementasikan ilmu tersebut dengan ilmu lintas zaman. Pengetahuannya yang dapat menembus masa lalu (kasu perahu) dan masa mendatang (kasus tembok) telah meyakinkan kita semua betapa besar karunia Tuhan. Hal ini kemudian menjadi pelajaran, bahwa kita tak pernah mengetahui secara pasti masa lalu, depan, bahkan sekarang. Yang perlu dilakukan adalah melakukan yang terbaik. Di samping itu kita harus punya plan (rencana) yang jelas. Menyusuri semua yang ada juga sangat urgen.

Lalu, kajian lebih dalam tentang ilmu ini membuktikan bahwa dengan hanya memahami teks (secara dhohiri) tidaklah cukup. Khidir juga menyinggung tentang Taurat (kitab yang dibawa Musa), “jika hanya dengan Taurat, maka tidak cukup bagimu…” beliau menambahkan, ilmu Tuhan Maha Luas, maka sombong menjadi barang haram bagi ahli ilmu.

Hal menarik yang ingin penulis sampaikan adalah tentang kekuatan akal dan hati. Di sini membuktikan bahwa akal itu terbatas. Bahkan sangat terbatas. Bagaimana bisa Musa menalar ikan “pemberontak” itu, lalu kejadian-kejadian bersama Khidir, dll. Lantas, hati. Hati di sini berkaitan dengan kemantapan dan kekuatan hati perasaan, memiliki ketahanan lebih dibanding akal. Jika saja, Musa dapat “bersabar”, maka kuatlah hatinya. Begitulah. Dalam ayat lain, al-Quran mengatakan “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah dirinya sendiri”. Dhohir ayat menggunakan kata “anfus[9] (diri, jiwa, dsb). Sebagian penafsir memaknai kata ini dengan jiwa/hati bukan diri secaa fisik. Lengkaplah kenyataan kekuatan hati/jiwa seorang manusia. Jika takdir Tuhan itu telah teraktualisasikan, maka bagaimana kita bisa tidak terima? Jika itu masuk akal dan memenuhi kausalitas, mungkin akal juga “mengangguk”. Namun, bagaimana jika tidak rasional? Hati lah yang bisa. Di dalamnya ada iman.

Sedikit membuat hipotesis, dari sini (hati) lah ilmu Khidhir muncul. Dari ke-legowo-annya mematuhi dan menerima perintah Tuhan, beribadah sepenuh hati, memantapkan iman. Dus, tanpa memperdebatkannya lagi, Khidir itu bukan siapa dia dan dimana ia tinggal, namun bagaimana kehidupannya dan apa yang dapat kita ambil darinya.

Hikmah

Dari telaah kisah Khidir dalam al-Quran, setidaknya penulis dapat menemukan beberapa hikmah, yaitu:

  1. Larangan untuk sombong, dalam hal apapun, bahkan ilmu.
  2. Pentinganya kesabaran, pengabdian[10], dan ketetapan hati dalam pencarian ilmu.
  3. Pentingnya memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada.

[1] Bahan kajian Kongkow TeHa Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo pada tanggal 01 April 2013.

[2] Mahasiswa FUPK-TH semester 4.

[3] M. Alwi Fuadi, Nabi Khidir (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2007), h.1. Lihat juga Qashash al-Anbiya’ karya Ahmad bin Ibrahin al-Naisaburi (Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1994), h.220-224.

[4] Ibid, h.3.

[5] “Khidir” diambil dari wttp://id.wikipedia.org pada 01 April 2013 02:00.

[6] Kemungkinan besar, demi memenuhi hasrat akalnya untuk meyakini Allah, pun menguatkan hatinya.

[7] Penjelasannya, tentang perahu, karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu.  Tentang pembunuhan, karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih. Lalu tentang tembok, adalah bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut.

[8] “Kisah Nabi Khidir as” diambil dari http://www.lebaran.com pada 31 Maret 2013 22:00.

[9] Hasil diskusi Kajian Tafsir Hadis mahasiswa FUPK.

[10] Pengabdian dimaksudkan seperti pepatah, “Ilmu tidak akan memberikan sebagian (kecil) darinya kecuali kau telah memberikan semuanya (pengabdian) dari dirimu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s