Takdir, Tarik Ulur Manusiawi dan Ilahi


Takdir[1], Siapa yang Berkuasa?

Histori

Ah, perdebatan tentang takdir seakan menjadi bumerang bagi kaum muslim sendiri. Yah di satu sisi paham Jabariyah memaknai takdir sebagai sesuatu yang telah “diatur” tanpa ada daya bagi manusia sebagai pelaku kehidupan. Sedangkan Qadariyah punya pandangan ekstrim bahwa kita, manusia, lah yang sepenuhnya menguasai dan menentukan apa yang akan terjadi pada kita, bukan Tuhan.

Semakin jauh mempelajarinya, terkadang malah semakin pusing memahaminya. Kemudian datanglah paham Asyariyah yang –katanya- merangkum keduanya. Yaitu, sebenarnya Tuhan sudah punya gais-garis ketentuan takdir, namun kita, manusia diberi “beban” untuk berusaha hidup sebaik-baiknya. Begitulah kiranya pemaknaan tentang ayat “Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang hingga mereka mengubah nasib mereka sendiri”. Namun, pada prakteknya, paham Asy’ariyah lebih dekat pada konsep Jabariyah. Pada akhirnya semua harus dikembalikan pada Tuhan.

Yang ironis dari kepercayaan semacam ini adalah, “Tuhan, kau tidak adil”. Hanya karena fakta bahwa ketika seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, namun tetap saja tidak memperolehnya. Sedangkan di sisi lain, ada konsen “min khaitsu la yahtasib”, yang –katanya- tidak harus diusahakan.

Hal-hal semacam inilah yang akan coba penulis telaah dalam makalah ini.

Rekonstruksi pemaknaan takdir

Rekonstruksi pun mulai ingin dilakukan ulama-ulama pasca ketiga kelompok itu. Salah satunya, al-Ghazali. Singkatnya, Al-Ghazali memaknai takdir sebagai sistem[2]. Sistem (atau sunatullah) merupakan hal yang sudah ditetapkan oleh Tuhan (Allah-red) sebelum kita semua diciptakan. Misalnya, sifat api itu membakar, es itu mencair jika suhunya dinaikkan, kayu akan menjadi bara-abu ketika dibakar, dsb.

Lebih jauh lagi, al-Ghazali menafsirkan ayat-ayat tentang “kuasa manusia”. Manusia punya kewajiban untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan (apa saja yang terjadi padanya). Hemat penulis, al-Ghazal memahami takdir secara lebih antroposentris (berkemanusiaan) dibanding Asy’ariyah.

Menyinggung tentang empat hal yang telah digariskan Allah sejak zaman azali –ajal, jodoh, kehidupan, dan rizki-, al-Ghazali memaknainya sebagai sebuah anugerah/ potensi. Misalnya, umur. Kita dianugerahi keadaan badan yang ada kalanya kurang lengkap (cacat), bisa saja ada beberapa orang yang mati cepat gara-gara gagal jantung, hati yang berpenyakit, dsb. Kemudian kebahagiaan dan pekerjaan, kita sejak lahir dianugerahi kecerdasan pikiran (otak encer). Lalu setelahnya, kita akan lebih mudah menjadi cerdas, lalu pekerjaan pun “datang”, dan kebahagiaan pun dicapai. Pun begitu dengan rezeki dan jodoh.

Efek yang kemudian terjadi dari pemahaman konsep ini adalah pemusatan kehendak manusia yang ekstrem (lebih dekat kepada Qadariyah dan Muktazilah). Begitu hemat penulis. Jika kita yakini bahwa Tuhan memberikan semuanya di “depan” (lahir-red), maka kehidupan kita ada di tangan kita. Lalu, bukankah kita juga diperintahkan oleh Tuhan untuk berdoa? (ini akan dibahas pada sub-bab berikutnya). Pun, yang kemudian menjadi istilah baru adalah, hukum kausalitas sangat kental pada pemahaman ini. Jika aku belajar maka pintar, jika aku bekerja maka dapat uang dan kaya, jika aku diejek maka marah, dsb.

Counter al-Ghazali datang dari pemikir-pemikir setelahnya. Jika paham al-Ghazali ini “dibiarkan”, keangkuhan manusia pun tidak bisa dielakkan –meskipun sudah dibatasi-. “Aku kaya karena aku bekerja, inilah aku”, “Aku pintar karena selama ini aku memang belajar”, statemen-statemen semacam itu tentu tak terelakkan. Begitu hemat penulis. Kaum sufistik mencoba mengerem hal tersebut. Ulama-ulama (murid) Asy’ari –misalnya klompok sunni- beranggapan bahwa tetap bagaimanapun, Tuhan masih punya kuasaNya yang tak terbatas. Logikanya, masih banyak kejadian-kejadian yang tidak dapat diterima nalar. Mukjizat, karomah, barakah, dll. Tak tentu yang sudah sekian lama belajar, pasti menjadi pandai. Yang tentang kaya juga begitu.

Hal yang kemudian menjadi khujjah kaum sufistik adalah, penafiran tentang “anfus” pada ayat tentang kehendak manusia. Anfus dimaknai bukan lantas dengan diri/perbuatan/ kehendak (terserah pakai istilah yang mana), namun hati. Disini bagaimana kita bisa menerima dengan apa yang terjadi kepada kita. Baik atau buruk itu hanya persepsi kita sendiri. Dari sini kental kiranya konsep qanaah, sabar, dan ridha yang –katanya- muncul dari paraahli sufi.

Hemat penulis, yang penting bukanlah siapa yang mengatur siapa. Bukan juga Tuhan atau manusia yang menentukan. Namun, satu yang sampai sekarang penulis yakini. Hidup itu anugerah. Bukankah selayaknya anugerah itu membahagiakan? Agaknya penulis condong ke pendapat yang terakhir untuk tetap menyukuri hidup. Toh kita juga mengimani bahwa Allah itu Maha Adil. Ia Maha Tahu. Ia Maha Bijaksana. Lantas bagaimana kita dapat menyalahkanNya? Semoga saja akal dan hati kita tetap kuat dan sanggup menjalani “hidup” ini. Namun, bukan berarti penulis berpaham Jabariyah. Karena, jika kita percaya Allah, maka kita patuh padaNya. Dia memerintahkan untuk berusaha, ya seperti itulah. Sedangkan tentang “kuasa”nya yang tidak terbatas, penulis menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah peringatan dan penyadaran tentang posisi kita (manusia-red) sebagai mahluk. Bukan Tuhan.

Doa, merubah takdir?

Doa merupakan bentuk upaya untuk memperbaiki hidup kita. Bukan takdir. Kita jelas-jelas punya akal dan hati. Bukankah Tuhan juga menyebutnya dalam firmannya. Redaksi “bianfusihim” penulis maknai sebagai kewajiban manusia untuk tidak hanya diam. Bergerak (berusaha-red). Itulah yang harus dilakukan. Dengan keyakinan dan penerapan yang seharusnya tentunya.

“Ud’uni astajib lakum”, Tuhan berkata seperti itu. Jika Ia diktator (memaksa-takdir yang tak bisa diubah), maka tentu ayat ini tidak berlaku. Yah, tentang merubah atau tidak. Tergantung kita memaknai takdir seperti apa. Jika maknanya seperti apa yang telah ditetapkan Allah dahulu kala, maka doa itu bisa saja merubah. Namun, jika memaknai sebagai sesuatu yang telah terjadi, riil, maka doaa dalah salah satu media untuk merubah “diri” sendiri untuk menerima takdir itu sendiri. Bagaimana sesuatu yang sudah terjadi bisa berubah?

Question:

  1. Ulul: What is the implementation the destiny for our life? And what is the different between who believe in the destiny and don’t believe?

What about the presenter’s addition after we know the destiny concept from the scolars?

  1. Cheff: What is the expalanation of two statement about some verses, like “Allah made man’s action” and “Allah could made someone or all of man believer or not”. Yes, it is about Allah’s qudrah (power).
  2. Abid: What is sunnatllah presenter mean?

Answer

1. Ini soal-soal aksiologis, pragmatis mungkin.

Tentang takdir, yang terpenting dalam penejasan apa yang akan kita lakukan dalam hidup ini adalah bagaimana kita memahmi takdir itu sendiri. Jika kita memahami takdir sebagai sesuatu yang sudah ditetapkan, maka kita perlu merubah cara pandang kita. Pahami dan ambil hikmah dari setiap peristiwa. Baik atau buruk. Tanamkan dalam jiwa, Allah lah sumber itu semua. Maka kita akan hanya bisa rela. Tetap optimis dan kuat. Sedang bentuk yang kedua adalah memahami takdir sebagai sesuatu yang telah dan akan terjadi. Jika kita memahaminya sebagai sesuatu (oleh Allah diperintahkan) untuk diperjuangkan oleh manusia, maka melakukan yang terbaik secara aksiologis merupakan praktek paling tepat. Dalam kaitannya dengan hasil pun, kita tak akan “memaksa”nya sesuai keinginan. Toh, tidak ada yang pasti (yang bisa kita tentukan).

Menanggapi soal kedua, agaknya pemateri mulai sadar dengan sepenuh hati apa yang diyakini selama ini. “Hidup itu adalah anugerah”. Anugerah itu dari Tuhan. Hal itu tentu perlu kita syukuri dengan sepenuh hati. Ditambah lagi tuga kita adalah mengabdi kepada-Nya. Maka, muana mungkin kita menyesali takdir dalam hidup (anugerah-red) itu? Karena itu sama saja kita menyesali anugerah dan menyalahkan dzat yang telah Maha Baik dengan membiarkan kita hidup. Dus, dengan seperti ini saya kira menyikapi takdir pun tidak adakan dipermasalahkan. Selalu baik, tersenyum J

2. Apa benar, Tuhan telah membuat semua perbuatan dan nasib manusia? Bahkan sejak dulu. (الله يغفــر ما يشاء ويعذب مايشاء). Yah, berkaitan dengan ayat-ayat semacam ini.

Yah, hemat kami, yang dimaksud dengan membuat perbuatan (entah itu berupa kebaikan, dosa, memberi hidayah, menentukan nasib, dsb) di situ ada dua pemaknaan. (1) potensi, kemampuan manusia yang memungkinkan untuknya berbuat sesuatu. (2) kenyataan, yang merupakan ketetapan kejadian (sesuatu yang telah terjadi-red) dari Tuhan. Pada intinya, kita diberi dua hak penting dan (pula) diberi dua kewajiban. Kewajiban untuk tetap melaksanakan hukum-Nya dengan penggunaan dan pemaksimalan hukum tuhan (tentang potensi) dan kesanggupan untuk menerima apa yang telah terjadi tanpa “kekecewaan kepada Tuhan”. Dari sini, penekanan tentang “hidup ini adalah anugerah” bagi saya memang nyata.

Dari sini, apakah Tuhan tidak adil? Sebagai orang beriman, kami menolak prasangka itu. Kekuasaan untuk “menentukan” bagi Tuhan adalah bentuk ke-Maha-an-Nya. Pun, dengan demikian kita, umat Muslim, tidak akan kelewatan dalam meyakini kehendak akal –dalam menentukan suatu tujuan-. Juga bukan berarti kita berpangku tangan, karena tugas kita adalah memberdayakan “anugerah” itu.

3. Sunnatullah di sini adalah hukum alam yang telah ditentukan Tuhan. Dalam hal ini, kami membatasi tentang hukum-hukum empirik dan logis. Misalnya saja, sifat api yang panas, es yang dingin, dsb. Hal-hal semacam ini juga kadang disebut sebagai hukum kosmos / kausalitas. Dalam kegiatan manusia, misalnya saja, rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, dst.

Data:

Speaker: Ahmad Muzaqqi

Moderator: Zaimul Asror

Participant: Ulul, Cheff, Mujab, Abid, dll. Tentunya warga asrama.


[1] Berasal dari kata qaddara-yuqaddiru-taqdiran. Mengukur, menentukan (takaran). Adakalanya bermakna tentang sesuatu yang sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman dulu. Ada kalanya bermakna sesuatu yang sudah terjadi  dalam hidup.

[2] Sistem disini adalah hukum alam, kausalitas, dsb. Tuhan telah menciptakan dunia dan seisinya sebagai sebuah kesatuan dengan segala aturanNya. Ini merupakan salah satu hasil diskusi dengan Ust. Zuhad, dosen FU IAIN Walisongo.

One thought on “Takdir, Tarik Ulur Manusiawi dan Ilahi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s